Gara-gara Tidak Tegas Ke Israel

Biden Nyungsep, Trump Menggeliat

Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Donald Trump.
Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Donald Trump.

RM.id  Rakyat Merdeka – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden semakin terpojok di mata rakyatnya. Kebijakannya yang tidak tegas terhadap Israel, membuat dukungan pemilihnya merosot. Sebaliknya, Donald Trump yang kembali maju sebagai calon presiden dari Partai Republik, semakin menunjukkan taringnya.

Hasil jajak pendapat NBC  yang dirilis Senin (5/2/2024) menunjukkan, Trump unggul dari Biden. Trump mendapat­kan 47 persen suara, naik satu persen dari November tahun lalu. Sementara itu, Biden hanya mendapat 42 persen suara, turun dua persen dari November.

Trump (77) pede menghadapi Biden (81), sang petahana. Tai­pan real estate itu juga menjan­jikan akan membawa Amerika kembali menjadi negara adi­daya, yang disegani dunia.

Biden juga terus diserang berbagai isu, mulai dari pan­demi Covid-19, krisis ekonomi, hingga imigrasi ilegal. Banyak yang meragukan kemampuan Biden memimpin AS hingga akhir masa jabatannya.

Responden jajak pendapat NBC, 11 persen masih belum menentukan pilihan. Mereka masih menunggu perkembangan situasi politik di Negeri Paman Sam itu. Namun, dengan tren yang ada, tampaknya Trump semakin terdepan.

“Ini selisih terbesar Trump dan Biden dalam 16 jajak pendapat yang rutin kami adakan,” ujar koresponden politik NBC, Steve Kornacki, Minggu (4/2/2024).

Jajak pendapat NBC pada 26-30 Januari 2024 itu mengambil sam­pel 1.000 pemilih terdaftar dengan margin kesalahan plus atau minus 3,1 poin persen.

NBC sudah melakukan polling antara Biden melawan Trump selama lima tahun terakhir. Biasanya, Biden unggul terhadap Trump. Sayangnya, sejak akhir tahun lalu, hasil polling mulai bergeser.

Juli 2023, Biden tercatat ung­gul dari Trump dengan dukung­an 49-45 persen responden. Namun, pada September angka dukungan Biden terus merosot. Sementara dukungan untuk Trump makin meningkat.

Salah satu isu utama yang membuat responden enggan mendukung Biden adalah perang Israel Vs Hamas di Gaza. Hanya 15 persen pemilih berusia di bawah 35 tahun yang menyetujui pendekatannya, sementara 70 persen tidak menyetujuinya.

Juru Bicara Tim Kampanye Trump, Steven Cheung me­ngatakan, Biden telah menjadi mimpi buruk bagi negara ini hanya dalam tiga tahun masa jabatannya.

“Tidak ada satu pun serangan yang dapat membuat orang Amerika melupakan semua ke­sengsaraan dan kehancuran yang ditimbulkannya,” kata Cheung.

Pernyataan Cheung itu merespons serangan Biden terhadap Trump, di Negara Bagian Nevada, Minggu (4/2/2024). Biden berkampanye di Nevada menjelang pemilihan pendahu­luan (primary) Partai Demokrat pada 6 Februari 2024.

Dalam kampanyenya, Biden mengajak masyarakat memilih­nya daripada Trump. Pasalnya, kata Biden, Trump lah yang akan menjadi mimpi buruk bagi AS.

Presiden AS ke-46 itu mengu­las kembali peristiwa 6 Januari 2021, saat Gedung Kongres AS, Capitol Hill, diserang perusuh. Biden menuduh serangan itu diinisiasi Trump untuk meng­ganggu pengesahan kemenang­an Biden dalam Pilpres AS 2020.

“Andalah alasan kami mem­buat Donald Trump menjadi pecundang lagi,” kata Biden, di sebuah pusat komunitas warga Afrika-Amerika di Las Vegas, Nevada.

Dilansir Associated Press (AP) News, Biden mengatakan, pertarungan melawan Trump akan kembali terulang. Bahkan kali ini, dia memprediksi per­taruhannya akan sangat besar dibandingkan ketika dia meng­hadapi Trump pada 2020.

“(Ini) yang membuat Ameri­ka, menurut saya, berada dalam risiko,” pungkasnya.

Nevada, negara bagian yang terkenal dengan industri kasino dan perhotelannya ini ini sangat sulit diprediksi. Negara bagian yang dijuluki Silver State ini mempunyai populasi komunitas Latin, Filipina, China dan Afrika-Amerika (mayoritas).https://bolalampupetak.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*