Kementan Tingkatkan Daya Saing Kelor Lewat Hilirisasi

Dirjen Perkebunan Kementan Andi Nur Alam Syah saat kunjungan kerja ke Desa Ngawenombo, Blora, Jawa Tengah, Kamis (19/10/2023). (Foto: Istimewa)
Dirjen Perkebunan Kementan Andi Nur Alam Syah saat kunjungan kerja ke Desa Ngawenombo, Blora, Jawa Tengah, Kamis (19/10/2023). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka – Sesuai arahan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan Plt. Menteri Pertanian Arief Prasetyo Adi untuk menggerakkan hilirisasi perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan fokus menggairahkan para pelaku usaha perkebunan untuk memperkuat hulu hingga ke hilir, berinovasi dan kreatif dalam mengembangkan komoditas perkebunan Indonesia beserta turunannya. Upaya ini didukung teknologi atau digitalisasi yang mumpuni.

Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah mengatakan salah satu komoditas perkebunan yang didorong nilai tambah dan daya saingnya adalah kelor.

Kelor memiliki pasar ekspor yang potensial karena banyak dibutuhkan dunia, terutama dari Amerika sudah mulai ekspor dan di Bulan Januari mendatang mulai ekspor perdana dengan kapasitas yang lebih besar.

“Tentu Ditjen Perkebunan akan selalu support dan bina tak hanya dari sisi hulu namun sampai ke hilirnya. Kita akan membantu mendorong dan mendukung agar moringa ini lebih besar lagi. Para petani kita bisa bercocok tanam kelor dan untuk hilirnya, bisa bermitra atau kerjasama dengan pak Dudi dari PT Moringa organik Indonesia (PT MOI) yang akan melakukan penguatan terhadap exponential hilirisasi,” demikian kata Andi Nur Alam.

Hal tersebut diungkapkan saat melakukan kunjungan bersama Direktur Perbenihan Perkebunan, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan serta Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perekebunan (BBPPTP) Surabaya ke PT Moringa organik Indonesia (PT MOI) yang berhasil sukses melakukan pengembangan kelor di Desa Ngawenombo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kemarin Kamis (19/10/23).

Andi menyebutkan produksi kelor di PT MOI ini sangat tinggi, yakni mencapai 25 hingga 100 ton per bulan dengan diversifikasi produk yang cukup beragam mulai dari bubuk teh dan ada juga yang sudah dalam bentuk kapsul.

Kelor memiliki potensi yang luar biasa, yakni menciptakan lapangan kerja dan memberi pendapatan buat negara.

Kementan, katanya, butuh orang-orang yang terus semangat, berkomitmen, tekun dan kepercayaan diri mengembangkan kelor. Kelor yang sebelumnya hanya mengenal sebagai tumbuhan biasa yang hanya dimakan sebagai sayur, sekarang didorong melalui exponential program hilirisasi menjadi produk-produk bernilai tinggi dengan diversifikasi moringa organik Indonesia.

“Semoga kelor Indonesia bisa mendunia dan terwujud. tidak hanya di hilirisasi saja, tentu kita juga akan mendorong penguatan branding. Mari bersama para pecinta kelor Indonesia, seluruh stakeholder perkebunan maupun insan perkebunan terkait, kita terus berkolaborasi bersinergi, demi kemajuan kelor dan komoditas perkebunan Indonesia lainnya,” pinta Andi.

Pada kesempatan yang sama, owner PT Moringa organik Indonesia (PT MOI), Dudi Krisnadi mengapresiasi Direktorat Jenderal Perkebunan yang telah hadir dan mendukung penguatan kelor Indonesia.

Kekayaan kelor di Indonesia luar biasa dan mudah tumbuh, sehingga apabila terus di support oleh pemerintah, diimunisasi atau difasilitasi akan menjadi salah satu komunitas unggulan yang sangat menjanjikan.

“Karena kelor dijual dan dicari oleh dunia. Tantangan kedepannya, perlunya penguatan dan dioptimalkan sop dan sarana prasarananya. Kelor ini memang sudah sejak tahun 2012 dicari dunia, kelor yang dikelola kami ini termasuk yang terbaik di dunia, berdasarkan kandungan nutrisinya,” tutur Dudi.https://tanyakanpada.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*